Oleh : Meryl R Saragih

Presiden Republik Indonesia telah menunjuk 7 anak muda sebagai staf khususnya pada kamis 21 November 2019 untuk membantu tugas-tugas sebagai presiden diberbagai bidang. Sebuah keputusan yang bagi sebagaian orang sangat mengejutkan dan mungkin saja dinilai sebagai keputusan yang serampangan dan menunjukkan kesombongan.

Namun sebagian kalangan menilai dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa keputusan tersebut merupakan langkah strategis yang diambil oleh Presiden Joko Widodo untuk melihat Indonesia dari cara berpikir generasi milenial. Jokowi sangat memahami betul bahwa di era industri 4.0 anak mudalah yang begitu cepat untuk beradaptasi. Dan, keputusan merekrut generasi milenial bukan sebuah kesombongan melainkan kepercayaan diri sebagai seorang presiden yang memberikan kepercayaan kepada generasi muda untuk mengelola negara yang besar dengan berbagai dinamika permasalahannya seperti Indobesia.

Masa kerja Joko Widodo diperiode keduanya ini dengan fokus salah satunya membangun kualitas sumber daya manusia maka tentu yang menjadi objek pembangunan adalah generasi muda yang nantinya akan melanjutkan estafed kepemimpinan dan pembangunan di Indonesia. Karena itu Joko Widodo butuh pemikiran anak-anak muda yang memikirkan nasib seangkatannya kedepan. Hanya mereka yang mengetahui apa yang mereka butuhkan di masa depan.

Joko Widodo menyakini bahwa cara berpikir generasi muda yang cenderung out of the box dan cenderung mengesampingkan resiko akan mampu memberikan terobosan baru yang tak terpikir oleh kaum tua yang senantiasa memikirkan resiko sehingga akhirnya tak bergerak sama sekali. Dengan anak-anak generasi milenial ini Joko Widodo ingin melompat jauh untuk mengejar ketertinggalan dan meraih kemajuan demi mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa yang terlebih dahulu telah memiliki kemajuan luar biasa.

Presiden menyadari bahwa anak muda adalah aset bangsa yang dapat memberikan kontribusi besar untuk pembangunan bangsa. Terlebih lagi bahwa Indonesia akan mendapatkab bonus demografi yaitu kurang labih saat ini ada 60 juta penduduk Indonesia merupakan anak-anak muda.

Sumut Perlu Sentuhan Muda

Staf khusus yang ditunjuk oleh Joko Widodo adalah anak-anak muda dengan beragam latar keilmuan yang cukup mumpuni. Dan sesungguhnya, anak-anak muda yang memiliki kemampuan dan keahlian dengan katagori profesional sangat banyak dan berserakan diseluruh wilayah Indonesia termasuk Sumatera Utara.

Apa yang dilakukan oleh Presiden untuk kepentingan generasi akan datang yang memiliki kualitas sumber daya manusia sepatutnya diikuti oleh masing-masing kepala daerah di Indonesia. Berani merekrut dan melibatkan anak-anak generasi milenial untuk membawa sistem pelayanan dan pembangunan di daerah-daerah beradaptasi dengan teknologi era idustri 4.0.

Demikian pula halnya untuk Provinsi Sumatera Utara. Sebuah provinsi besar dengan 33 kabupaten/kota yang berpenduduk kurang lebih 12 juta jiwa tentu sebagiannya adalah anak-anak muda. Patutlah kiranya Sumatera Utara juga disentuh oleh tangan-tangan ahli anak-anak muda karena memang Sumatera Utara butuh sentuhan anak-anak muda.

Sebaiknya Gubernur Sumatera Utara Bapak Edy Rahmayadi memperhatikan dan mengikuti apa yang dilakukan oleh Presiden hanya untuk satu tujuan yaitu melompat dan mengejar ketertinggakan Sunatera Utara diberbagai bidang sehingga cita-cita menjadikan Sumatera Utara bermartabat akan teralisasi.

Perhatikanlah berbagai persoalan dan ketertinggalan di Sumatera Utara yaitu, pertama, prestasi dalam dunia pendidikan. Tidak satupun universitas maupun sekolah-sekolah setingkat SLTA dan SLTP masuk dalam 10 besar terbaik, demikian juga prestasi perindividu siswa maupun mahasiswa, sangat langka menjadi juara diberbagai bidang pendidikan. Bukankah dunia pendidikan adalah dunia anak-anak muda ? Hanya anak-anak muda itulah yang mrngetahui jalan keluar dari berbagai persoalan dunianya.

Kedua, kreatifitas, inovasi dan produktifitas generasi muda Sumatera Utara belum mendapatkan tempat yang layak sebagaimana harusnya. Semua kreatifitas, temuan-temuan yang bersifat inovasi dan juga hasil karya original (produktifitas) anak-anak muda Sumatera Utara hanya menjadi konsumsi dikomunitas mereka saja. Pemerintah belum mampu mengakomodir hasil karya generasi muda. Dan hanya anak-anak muda itu saja yang tahu solusinya.

Ketiga, seni budaya. Untuk sektor ini sangat mudah mengetahuinya. Begitu banyak talenta seni di Sumatera Utara, begitu beragam warna budaya Sumatera Utara. Tetapi apakah sebanding dengan panggung-panggung yang ada dan di fasilitasi oleh pemerintah Sumatera Utara ? Tidak sebanding. Akhirnya, talenta-talenta seni yang ada di genarasi muda menguap begitu saja ditelan persaingan fasilitas seni di provinsi lain seperti Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Demikian juga, talenta budaya dikhawatirkan hanya tinggal menjadi catatan dokumen di dinas seni dan budaya saja.

Ketiga persoalan itu saja sudah cukup untuk menyatakan bahwa Sumatera Utara butuh sentuhan generasi milenial. Karena hanya mereka yang merasakan, membutuhkan dan tahu mencari solusinya. Mereka juga yang paling cepat beradaptasi dengan tekhnologi era 4.0 yang tengah bergerak menuju era industri 5.0.

Penutup

Visi Bapak Edy Rahmayadi sebagai Gubernur Sumatera Utara yang besar dan visioner. Dalam hal implementasi ada baiknya Gubernur membentuk tim akeslerasi pembangunan untuk percepatan pembangunan di Sumatera utara. Semuanya dapat dilakukan dengan adanya political will dari Gubernur.

Dengan adanya Tim Percepatan Pembangunan yang melibatkan stakeholder terutama generasi milenial tentunya Gubernur akan mendapatkan kekayaan berpikir yang inovatif dan adaptif terhadap berbagai perubahan dan percepatan teknologi. Tim ini mebjadi penasehat tanpa mengambil alih operasional teknis agar dapat menghadapi tantangan pembangunan kedepan.(*)

( Penulis adalahAnggota DPRD Sumut Fraksi PDI Perjuangan Dapil Sumut II/Medan B dan Wakil Sekretaris DPD PDI Perjuangan Sumut)