Pemerintah telah mengharuskan perempuan hamil untuk melakukan pemeriksaan HIV AIDS sebagai upaya untuk mencegah janin agar tidak terinfeksi. Namun hal ini akan lebih baik jika dilakukan sebaliknya, dimana suami yang beristri hamil juga diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan HIV AIDS. Lantaran jika suami terinfeksi virus tersebut maka sudah tentu sangat beresiko terhadap istri dan janin yang dikandungnya.

“Kita harus mengubah cara pandang terkait perempuan dan HIV AIDS. Selama ini hanya perempuan hamil yang diharuskan untuk memeriksakan diri. Padahal, banyak perempuan justru terjangkit HIV AIDS dari suaminya. Makanya suami yang beristri hamil juga harus diperiksa. Cukup jika diketahui suami positif maka sudah tentu istri dan janin beresiko besar juga terinfeksi virus,” ujar Syaiful W Harahap, jurnalis senior dan pemerhati HIV AIDS.

Syaiful mengatakan hal tersebut dari Jakarta langsung melalui saluran teleconference dalam workshop jurnalistik bertema Penguatan Kapasitas Jurnalis dalam Memberitakan Kasus Perempuan Ibu Rumah Tangga dengan HIV AIDS yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Sumut bersama Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) melalui program Citradaya Nita dan didukung oleh PT XL Axiata. Kegiatan ini digelar di Graha XL Medan, Kamis (23/1).

Lebih lanjut dikatakan Syaiful, hal ini juga yang menyebabkan mengapa angka Ibu rumah tangga lebih banyak yang terinfeksi virus HIV AIDS dibanding angka Perempuan Seks Komersial (PSK). Hal ini dipaparkannya karena PSK bisa melayani lima orang lelaki dalam satu malam.

“Bayangkan saja dalam satu malam seorang PSK bisa melayani lima orang lelaki hidung belang, dan kalau dia terinfeksi HIV dia akan menularkannya kepada lima orang lelaki tersebut. Selanjutnya, lelaki yang suka jajan di luar tanpa pengaman seperti kondom akan menularkannya kepada istri. Itulah mengapa angka pengidap HIV lebih banyak ibu RT dibanding PSK,” terang Syaiful.

Syaiful juga mengatakan tingginya angka pengidap HIV AIDS di Indonesia juga dikarenakan tidak adanya program penanggulangan yang konkret di hulu untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru, terutama pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual. “Program yang selama ini dijalankan seperti tes HIV dan lainnya itu adalah langkah di hilir,” jelasnya.

Narasumber lainnya, Kasi Pencegahan Penyakit Menular Langsung Dinas Kesehatan Sumut, DR. Yulia Maryani mengatakan, Sumut merupakan jawara dimana secara nasional Sumut menduduki peringkat ketujuh terbanyak pengidap HIV AIDS di Indonesia. Berdasarkan data Januari- Desember 2019 terdapat sebanyak 1.445 kasus yang ditemukan. Di mana dari angka tersebut 21 persen atau 306 kasus merupakan pasangan suami istri yang terdeteksi mengidap virus tersebut.

“Upaya yang kita lakukan untuk menanggulangi HIV AIDS seperti meningkatkan pengetahuan mengenai HIV di kalangan remaja, pemeriksaan HIV pada calon pengantin, menawarkan tes HIV pada ibu hamil dan pasien infeksi menular, pembentukan kader HIV di Posyandu dan yang terpenting adalah menjalin kerjasama lintas sektor dan lintas program dalam menanggulangi HIV-AIDS,” terang DR. Yulia.

Aktivis dari Hapsari, Lely Zailani mengatakan perempuan selalu mendapatkan stigma yang lebih besar dari pada laki-laki dari kasus-kasus HIV AIDS. Padahal menurutnya banyak perempuan yang terinfeksi dari suami. “Banyak stigma negatif yang muncul ketika perempuan terinfeksi HIV AIDS, meski dia sudah tertular dari suaminya, tetap saja masyarakat akan mengatakan dan menyalahkan si perempuan karena tidak bisa melayani suaminya, sehingga yang selalu disalahkan itu adalah istri. Ini terjadi karena adanya ketimpangan gender,” papar Lely.

Untuk itu menurut Lely, hal yang harus dilakukan untuk menekan angka HIV AIDS adalah negara harus bertanggung jawab dengan membuat regulasi yang efektif, regulasi dengan menyediakan perlindungan dan pemenuhan hak perempuan. “Akses layanan kepada prempuan harus didekatkan, penanganannya juga harus dilakukan dengan sistem yang terintegrasi antara penanganan perempuan dengan HIV juga penanganan terhadap kekerasan terhadap perempuan,” katanya.

Pendukung Sebaya Medan Plus, Afnita Yohana menambahkan bahwa temuan dari pendampingan yang dilakukan pihaknya terhadap pengidap HIV AIDS, banyak masyarakat yang belum memahami benar tentang HIV AIDS termasuk bagaimana penularannya.

“Sebenarnya bukan hanya masyarakat umum, bahkan tim medis juga banyak yang belum memahami bagaimana virus ini bisa menular dan banyak tim medis yang menjauh dari ODHA. Akibat penolakan masyarakat terhadap ODHA serta stigma negatif semakin membuat tekanan psikis yang besar bagi ODHA,” kata Afnita.

Sementara itu, Sekjen FJPI, Khairiah Lubis mengatakan tingginya angka perempuan khususnya Ibu Rumah Tangga yang terinfeksi ODHA di Sumut, serta banyaknya pemberitaan yang mengandung stigma negatif terhadap ODHA membuat dia mengikuti program beasiswa kepemimpinan untuk jurnalis perempuan dari PPMN.

Citradaya Nita adalah program dari PPMN yang bertujuan untuk pengembangan komunitas perempuan. “Untuk tahun ini ada 10 jurnalis yang meraih program beasiswa Citradaya Nita yakni Medan, Aceh, Bengkulu, Palu, Pontianak, Yogyakarta, Solo, Jombang, Flores dan Bali,” terang Khairiah.(lia anggia nasution)