BINJAI- Anak kerap menjadi korban dalam kasus perceraian orang tua. Seperti halnya SW (17), warga Binjai Timur telah ditelantarkan orang tua nya selama tiga tahun. Kondisi anak tunggal ini sangat memprihatinkan karena tidak ada keluarga yang bisa menopang hidupnya ditambah dengan penyakit epilepsi yang dideritanya.

Menurut Ketua Relawan Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Binjai, Sugi Hartaty korban ditemukan oleh relawan PUSPA yang merupakan Ketua Pengajian Kaum Ibu, Ani Anggraini dan Tri Suci Lestari, Sabtu (30/11/2019). SW kerap tidur di musala Tunggu Rono dikarenakan keluarga terdekatnya (bibi) tidak dapat menampungnya karena kondisi ekonomi yang sangat minim. Kedua orangtuanya baik ibu maupun ayahnya masing-masing sudah membina keluarga yang baru.

“Menurut bibinya SW sering mendapat perlakuan kasar dari ayahnya seperti pemukulan dan penyiksaan sehingga korban menjadi seperti agak linglung,” ujar Sugi.

Tak hanya itu, lanjut Sugi korban juga sudah putus sekolah dan hanya sampai mengecap pendidikan hingga kelas V Sekolah Dasar. Hal ini diakibatkan karena kasus perceraian orang tuanya, padahal sebelumnya SW tergolong anak yang pintar dan ceria.

“Saat ini SW juga sangat membutuhkan pengobatan karena dia penderita epilepsi,” terang Sugy.

Melihat kondisi tersebut, Sugy bersama dengan relawan PUSPA Binjai berupaya untuk melakukan sinergi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Dinas Sosial Binjai. Bersyukur respon cepat langsung dilakukan. Saat ini SW sudah dibawa berobat rawat inap di rumah sakit untuk mengobati penyakit epilepsinya, Selasa (2/12/2019).

“Alhamdulillah berkat sinergi yang luar biasa antara PUSPA, Dinas PPPA dan Dinas Sosial Binjai, SW saat ini sudah dirawat di rumkit. Harapan kita SW juga ke depan dapat melanjutkan sekolahnya,” terang Sugy. sm-03