Berita  

PT Kesehatan Indonesia Paling Rendah

Ketua Himpunan Perguruan Tinggi Kesehatan (HPT-Kes) Indonesia DR. Ir. M Budi Djatmiko, saat melantik Pengurus HPT-Kes Sumut periode 2016 - 2020 yang dipimpin oleh DR. Ivan Elisabeth Purba
Ketua Himpunan Perguruan Tinggi Kesehatan (HPT-Kes) Indonesia DR. Ir. M Budi Djatmiko, saat melantik Pengurus HPT-Kes Sumut periode 2016 - 2020 yang dipimpin oleh DR. Ivan Elisabeth Purba
Ketua Himpunan Perguruan Tinggi Kesehatan (HPT-Kes) Indonesia DR. Ir. M Budi Djatmiko, saat melantik Pengurus HPT-Kes Sumut periode 2016 – 2020 yang dipimpin oleh DR. Ivan Elisabeth Purba

MEDAN (suaramahardika)- Ketua  Himpunan Perguruan Tinggi Kesehatan (HPT-Kes) Indonesia DR. Ir. M Budi Djatmiko mengungkapkan, saat ini Perguruan Tinggi (PT) Kesehatan di Indonesia paling rendah dibandingkan dengan program studi (prodi) lainnya. Hal ini dikarenakan kurangnya jumlah dosen yang berpendidikan S2.

Hal itu diungkapkannya saat melantik Pengurus HPT-Kes Sumut periode 2016 – 2020 yang dipimpin oleh DR. Ivan Elisabeth Purba, MKes, belum lama ini di Medan. Ivan E Purba terpilih untuk memimpin HPT Kes Sumut.

“Jumlahnya mencapai 3.203 perguruan tinggi kesehatan di Indonesia. Tapi, dari jumlah itu, 60 persennya masih akreditasi C. Hanya 7 persen yang masih akreditasi A dan 30 persen akreditasi B. Sebanyak 60 persen yang akreditasi C itu paling banyak berada di daerah Jawa. Alasan yang pertama adalah karena jumlah dosen yang tidak seimbang. Dosen di perguruan tinggi kesehatan paling bermasalah,”sebutnya.

Dikatakannya banyaknya akreditasi C pada PT Kesehatan disebabkan masih tingginya jumlah dosen yang hanya berpendidikan Diploma III, Diploma IV dan Stata 1. Dari 40.703 orang dosen PT Kesehatan, 20.728 dosen masih D-III, 1.797 dosen masih D-IV dan 12.947 dosen berpendidikan Strata 1 serta profesi hanya 2.626 orang.

“Seharusnya mereka-mereka ini sudah S2, karena UU Dosen dan Guru sudah mengharuskan dosen S2. Ini terjadi bukan karena teman-teman PT swasta tidak mau menyekolahkan dosen-dosennya, tetapi kita masih kekurangan pembukaan program studi S2. Program studi S2 kebidanan saja baru satu dikelola swasta,” tegas Budi.

Dia berharap, HPT-Kes Sumut ikut mendorong pemerintah menyelesaikan berbagai permasalahan ini. “Jumlah PT Kesehatan di Sumut urutan 3 paling banyak setelah Jateng dan Jatim. Mari kita lakukan diskusi banyak hal untuk mendorong pemerintah untuk selesaikan masalah ini,” tambahnya.

Ketua HPT Kesehatan Sumut yang baru dilantik DR. Ivan Elisabeth Purba, mengakui, akreditasi PT Kesehatan di Sumut mayoritas C dan berada di kluster 4 dan 5. “Karena itu, organisasi ini yang ditunggu oleh insan kesehatan, karena begitu banyak permasalahan yang kita hadapi,” ujarnya.

Ditambahkannya, pihaknya segera menginventarisir permasalahan yang paling krusial untuk diselesaikan. “Target kita peningkatan nilai akreditas C ke B, bersama Kopertis dan HPT-Kes pusat menelaah dan membina PT swasta agar mendorong dosen membuat jurnal ilmiah, penelitian, tri darma, pengabdian dan lainnya,” ujarnya.

Adapun susunan pengurus HPT-Kes Sumut Ketua DR. Ivan Elisabeth Purba, MKes, Sekretaris Hj. Johani Dewita Nasution, S.Kep, MKes, Bendahara Ermi Girsang, MKes dan lainnya. Hadir juga pada pelantikan itu Ketua Komite II DPD RI Parlindungan Purba, Koordinator Kopertis wilayah I Sumut Prof. Dian Armanto, APTISI Sumut dan lainnya. (bm3)