Potret Buram Pendidikan di Karang Gading

Salah satu ruangan di MIS Al-Ittihadyiah Karang Gading
Salah satu ruangan di MIS Al-Ittihadyiah Karang Gading
Sisiwa di Salah satu ruang kelas  MIS Al-Ittihadyiah Karang Gading

Bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak adalah salah satu hak anak. Namun ternyata, tak semua anak bisa mendapatkan haknya tersebut dengan penuh. Mungkin salah satunya adalah anak-anak di Desa Karang Gading Labuhan Deli kab.Deli Serdang, Sumatera Utara. Dengan kondisi sekolah dan ruang belajar yang jauh dari kata nyaman serta lingkungan yang juga kurang mendukung semangat belajar anak, anak-anak siswa MIS Al-Ittihadiyah Karang Gading, harus tetap bersekolah dan belajar dengan keadaan yang minim. Ruang kelas dengan atap yang hancur, meja serta bangku sekolah yang sudah tak layak pakai, “Kami juga tak punya.

Perpustakaan sekolah dan peralatan pelajaran olahraga dan seni, serta guru-guru yang berkualitas standart guru Nasional”, kepala¬† Madrasah Rosidi (33) kepada berita mahardika Kamis (1/9/2016).

siswi MIS Al-ittihadiyah berdiri di  depan tiang bendera sekolah tersebut yang sudah nampak kusam
siswi MIS Al-ittihadiyah berdiri di depan tiang bendera sekolah tersebut yang sudah nampak kusam

Guru-guru yang mengajar disekolah tersebut tak lain hanyalah ibu-ibu serta bapak-bapak didesa mereka yang bersedia meluangkan waktunya untuk mengajar. Guru-guru tersebut hanyalah masyarakat biasa yang hanya mendapatkan pelatihan untuk sistem belajar mengajar, mereka yang kesehariannya adalah ibu-ibu rumah tangga dan petani. Mengapa bisa seperti itu?, pasti pertanyaan itu akan muncul di benak kita. Hal ini disebabkan karena memang tidak ada guru yang bersedia untuk mengajar disekolah ini, selain karena Desa ini termasuk desa terpencil yang sangat sulit untuk mencapainya , sekolah juga tak dapat mengeluarkan uang untuk gaji guru tersebut. Pastilah sangat susah untuk mendapatkan guru yang berstandart nasional mau mengajar disekolah ini. Bukan hanya kendala ini saja yang ditemui, karena latar belakang pendidikan yang rendah serta lingkungan yang tidak mendukung, banyak diantara anak-anak tersebut yang putus sekolah, padahal biaya sekolah gratis, siswa tak dipungut biaya sepeserpun. Namun begitu, pihak sekolah beserta guru-guru yang ada terus bertahan, sedikit demi sedikit memberi pengertian kepada masyarakat setempat bahwa pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka, agar generasi penerus bangsa ini, menjadi generasi penerus yang cerdas dan bermartabat.

(Teks dan foto /suaramahardika.com/mafa Yulie Ramadhani)