Oleh : Dr. Aswan Jaya
Dua Minggu terakhir di bulan Juli 2019, PDIP di sibukkan dengan berbagai konferensi cabang-cabang, konferensi daerah-daerah dan puncaknya adalah Kongres PDIP yang rencananya akan di gelar pada tanggal 8-11 Agustus 2019 di Bali.

Konsolidasi ini syarat dengan euforia kegembiraan sebab secara beruntun di dua pemilu legislatif PDIP berhasil mengumpulkan suara terbanyak. Tidak hanya itu, secara beruntun pula PDIP memenangkan pemilihan presiden langsung dan sekaligus menempatkan kader terbaiknya sebagai presiden di Republika Indonesia untuk ketiga kalinya.

Untuk kemenangan yang terakhir ini sangat terasa istimewa, sebab PDIP menjadi partai pemerintah sekaligus menjadi partai yang memimpin dinamika legeslasi. Tidak seperti pemilu tahun 2014, hak PDIP sebagai pimpinan DPR RI “dirampas” oleh skenario UU MD3. Sehingga PDIP hanya sebagai partai pemerintah tanpa memiliki akses kendali terhadap dinamika legislatif walau ia memiliki kursi terbanyak.

Situasi ini tentunya memberikan harapan yang cukup besar bagi wong cilik (masyarakat Indonesia) sebagai basis pemilih tradisional PDIP. Bahwa PDIP akan mampu membangun sinergisitas antara eksekutif dan legislatif dalam merumuskan berbagai undang-undang dan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan wong cilik. Pidato politik Presiden terpilih Joko Widodo pada 14 Juli lalu sesungguhnya mempertegas situasi tersebut.

Memperhatikan capaian besar PDIP saat ini di tengah sistem politik yang sangat terbuka patutlah beberapa pertanyaan di ajukan. Antara lain apakah pencapaian gemilang tersebut karena faktor momentum politik belaka dan atau apakah PDIP memiliki soliditas yang luar biasa ?

Momentum Politik

Sebagai sebuah partai politik PDIP tidak bisa dikatakan murni partai baru di era reformasi. PDIP merupakan kelanjutan bentuk lain dari PDI pada masa orde baru.

Sebagaimana diketahui pada tahun 1996 PDI digoncang badai perpecahan saat restu pemerintah orde baru tidak diberikan kepada Megawati Soekarnoputri (selanjutnya dibaca sebagai Sang Ibu) sebagai ketua umum terpilih. Pemerintah, melalui skenario ‘jahatnya” menggelar kongres luar biasa di Medan untuk menggulingkan Sang Ibu. Cerita selanjutnya telah sama diketahui.

Skenario “jahat” itu justru memberikan momentum yang baik untuk Sang Ibu bersama kapal barunya yang disebut PDIP. Pemilu 1999, pemilu pertama pasca runtuhnya orde baru, pemilu pertama bagi PDIP dan sekaligus kemenangan pertama bagi PDIP.

Capaian ini dapat disebut menuai panen di tengah momentum. Rakyat baru saja mendapatkan hak kebebasan berpolitiknya. Sang Ibu baru saja menjadi salah satu sosok penting sebagai penyebab runtuhnya pemerintah yang otoriter. Bertemunya kedua hal tersebut menciptakan momentum politik yang dahsyat. Hasilnya Sang Ibu menjadi Presiden RI walau sempat terintrupsi oleh sentimen politik identitas.

Membangun Soliditas

PDIP menjelma sebagai partai besar. Sang Ibu telah menjadi Presiden, beberapa kader menjadi menteri dan ribuan kader terpilih sebagai anggota DPRD kabupaten/kota, DPRD provinsi dan DPR RI. Selanjutnya, beberapa diantara kader terpilih sebagai kepala daerah.

Bagitu sangat euforia dan sangat euforia. Dengan pengalaman yang minim terhadap tata kelola pemerintahan dan perundang-undangan, berdampak pada banyaknya kader-kader yang terjerat berbagai kasus pidana.

Lebih lanjut, pertikaian antar kader terjadi karena berebut kursi kepemimpinan di struktur partai. Banyak pengamat yang mengkalkulasi PDIP tidak akan bertahan lama menjadi partai yang besar dan memenangi Pemilu berkali-kali.

Namun, Sang Ibu melihatnya dari perspektif yang lain walau tanpa membuang kenyataan bahwa penyakit euforia sedang melanda. Penyakit ini diyakini akan menjadi energi politik yang kuat bila dikelola dengan kelembutan, keteguhan dan kesabaran. Ketiga hal itu dilakoni oleh Sang Ibu.

Ia konsolidasikan struktur partai, ia bentuk karakter kader partai tanpa banyak bicara di depan publik, di saat semua tokoh politik semaunya bicara di depan publik. Pesannya cukup jelas “Sedikit bicara banyak bekerja”.

Secara perlahan dan pasti ia bangun mekanisme rekrutmen kepemimpin untuk semua tingkatan partai, mekanisme proses penjaringan pencalegan sampai proses pemilihan pimpinan DPR. Juga ia atur proses rekrutmen kepala daerah yang mampu mengkonversi dua kemenangan sekaligus, kemenangan Pilkada dan konsolidasi partai menuju soliditasnya.

Saat PDIP memutuskan tidak berada dalam pemerintahan di periode 2004 – 2014 adalah saat yang tepat dimana PDIP memastikan bahwa konsolidasi untuk soliditas partai terbentuk dengan karakter yang sangat kuat.

Buktinya tidak ada lagi pertikaian untuk semua tingkatan struktural partai saat proses regenerasi kepemimpinan yang dapat dinilai mengancam keutuhan partai.

Berkat soliditas itu, periode politik 2014 dan 2019 PDIP keluar sebagai pemenang di pemilu legislatif dan pemilu presiden. PDIP juara dua kali beruntun, kerja Sang Ibu sungguh luar biasa.(Penulis adalah Simpatisan PDI-P )