MEDAN – Menteri Hukum dan HAM RI, Yasonna Laoly menyatakan, kebiasaan mahasiswa saat ini adalah mendowload kekayaan intelektual. Kurang berkreasi dan berinovasi. Kebiasaan itu tidak akan menjadikan mahasiswa sebagai mahasiswa yang kreator. Oleh karena itu, untuk menjadikan mahasiswa kreator, Perguruan Tinggi harus memiliki inovasi dan kreasi sendiri.

“Kita memiliki orang yang punya karya seni yang tinggi seperti, Rhoma Irama, Ebiet G Ade, tapi kalau tidak dihargai dia tidak punya apa-apa. Oleh karena itu, negara harus menghargainya. Kita harapkan dapat lahir inovasi-inovasi yang bagus dari Perguruan Tinggi. Mahasiswa tidak boleh menjiplak. Haram hukumnya, karena jika menjiplak tidak akan pernah jadi kreator tapi hanya penjiplak,”ungkapnya saat menjadi keynote speaker pada workshop“Daya saing bangsa Melalui Inovasi Oleh Perguruan Tinggi Dalam rangka Masyarakat Ekonomi ASEAN” di Universitas HKBP Nommensen, Medan, Sabtu (30/4).

Dia mengatakan, Perguruan Tinggi terutama Nommensen harus mampu berinovasi dan berkreasi melalui berbagai layanan pendidikan tinggi yang berkualitas, sehingga menjadi pelopor daya saing bangsa sekaligus jadi universitas yang berkelas dunia. Hal itu bisa dilakukan melalui pertukaran pelajar dan mahasiswa, membuat usaha di kampus dan lainnya.

“Tapi, untuk mewujudkan kelas dunia masih jauh dari harapan, kecuali kita saling bahu membahu baik kepada mahasiswa, dosen, dekan dan jajaran kampus lainnya. Karena, potensi Indonesia di pasar Asean sendiri sebenarnya sangat besar, jadi caranya ya kita harus meningkatkan kapasitas dan kualitas kita masing-masing. Kita mau tidak mau harus masuk dalam arus kompetisi atau kita akan tertindas,”ujarnya.
Laoly menekankan, bahwa MEA merupakan peluang dan bukan ancaman. Daya saing bangsa lahir sebagai jawaban untuk menghadapi globalisasi ekonomi yang tidak bisa kita hindarkan. Untuk itu, UHN punya tanggung jawab untuk mendorong daya saing bangsa.

“Oleh karenanya, UHN diharapkan menjadi ujung tombak untuk memajukan bangsa ini melalui inovasinya. Danau Toba misalnya, bukan hanya keindahan danau toba saja yang harus ditonjolkan, tapi kopi yang terkenal di sana juga harus dikembangkan. Bagaimana kita menghargainya. Dan, saya pikir kekayaan intelektual itu harus dihak patenkan. Sama, apa yang sudah dibuat UHN ini, harus dihak patenkan. Karena kalau tidak dihak patenkan akan sama saja,”katanya.(bm3)