Dr Aswan Jaya SH, MIKomi

Aswan Jaya

Sebagai aktivis yang turut membidangi peristiwa gerakan mahasiswa 98 di Sumatera Utara, peristiwa rusuh sebagai ujung dari unjuk rasa kemarin merupakan hal biasa. Tidak perlu ada yang dipersalahkan. Pihak kepolisian dan massa aksi sama-sama menjalankan fungsinya.

Pun bila ada korban di unjuk rasa yang rusuh itu adalah konsekuensi dari peserta aksi yang terlibat. Saat gerakan menuju peristiwa 98 untuk memaksa turun Soeharto sebagai presiden, banyak dari kami yang sampai saat ini dihilangkan dan belum diketahui dimana mereka. Apakah masih hidup atau sudah mati. Kami menerima itu dengan kesadaran yang penuh. Karena kami pun sadar bahwa gerakan politik melawan kekuasaan memiliki konsekwensi itu.

Persoalannya adalah apakah peserta massa aksi yang ikut gerakan unjuk rasa diberbagai tempat yang terjadi beberapa hari ini seluruhnya mengetahui bahwa gerakan ini sebuah gerakan politik ekstra parlemen yang inkonstitusional untuk satu tujuan yang di duga mengarah kepada penggagalan pelantikan presiden terpilih di bulan Oktober akan datang ?

Dari polarisasi yang terlihat bahwa gerakan ini memang memiliki kekuatan politik yang ideologis. Tujuannya pun ideologis.

Tuntutan meminta Jokowi mundur begitu menggema. Massa aksi itu juga menggemakan ideologi lain selain Pancasila. Inilah mengapa gerakan yang terjadi belakangan ini memiliki kekuatan ideologis. Oleh karena itu, pemerintah memang harus ekstra untuk mewaspadai gerakan aksi massa ini.

Bagi mahasiswa yang terlibat dalam aksi massa ini, kami menyarankan untuk benar-benar memperhatikan dan menganalisa secara objektif. Agar tidak masuk dalam pusaran politik perebutan kekuasaan yang mereka sendiri tidak mengetahuinya. Akibatnya hanya akan menjadi korban oleh pihak-pihak yang memiliki syahwat politik tinggi untuk berkuasa dengan mengusung ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI ( Penulis adalah Wakil Ketua DPD PDI-Perjuangan  Sumatera utara)