Dokter spesialis anastesi, Qadri Fauzi Tanjung

FOTO DOKTER QADRIDokter spesialis anastesi, Qadri Fauzi Tanjung

MEDAN (suaramahardika):
SIAPA yang tidak pernah merasakan nyeri. Meski hanya nyeri ringan, nyeri ini sangat mengganggu aktivitas.

Dokter spesialis anastesi, Qadri Fauzi Tanjung menuturkan nyeri itu berhubungan dengan emosi. Misalnya rasa cubitan yang diberi dengan orang yang kita suka dan tidak itu berbeda.

“Kalau gak suka bisa lebih sakit, tapi kalau orangnya kita sukai tak akan Teresa nyeri,” ujarnya Jumat (17/6/2016).

Tak berbeda dengan ibu hamil yang melahirkan. Rasa nyeri yang berbeda Alan dirasakan tergantung emosional ibu saat melahirkan.

Dituturkannya, nyeri adalah sensasi yang diberikan tubuh atas respon yang diterimanya merupakan hal yang sehari-hari kita alami. Pengobatan nyeri, sambungnya, bisa dilakukan dengan hipnoterapi dan pemberian obat, tergantung klasifikasi nyeri.

“Ada beberapa jenis nyeri yang tidak mudah diklasifikasikan seperti nyeri karena kanker, migrain dan beberapa yang lainnya,” jelas dia.

Dari berbagai macam nyeri itu, lanjutnya, ada beberapa jenis nyeri yang perlu diwaspadai, karena nyeri ini dapat bermanifestasi secara akut dan dalam intensitas sedang-berat, yang dapat disebut sebagai emergency pain. Nyeri tipe ini kadang memerlukan penanganan segera di Unit Gawat Darurat (UGD). Diantaranya, nyeri kepala yang berat dan tiba-tiba, sehingga dapat mengindikasikan pecahnya pembuluh darah otak. Kemudian nyeri di dada yang menjalar ke tangan, tenggorokan, tembus ke punggung bisa jadi sebuah serangan jantung yang memerlukan penanganan dalam hitungan menit.

“Ada juga nyeri di perut yg akut dan berat dapat berasal dari peradangan usus buntu, peradangan kandung empedu, peradangan pada pankreas dan luka pada lambung yang dapat menimbulkan perdarahan,” urainya.

Nyeri, jelas Qadri, dapat disebabkan oleh trauma luar dan trauma dalam. Trauma luar,  biasanya terjadi karena benturan Dan trauma dalam Karena unfeasible.  Kedua trauma ini,  lanjut dia, berbahaya karena akibatkan kerusakan jaringan.

“Semua organ bisa terkena nyeri,  karena mengenai sistem saraf simpatis, bisa akibatkan tekanan darah naik, emosi naik, bisa berpengaruh dengan penyakit lainnya. Misalnya jantung, jadi tidak biaa bekerja lebih keras dan menyebarkan kematian,” tukasnya.

Pengobatan nyeri,  imbuhnya,  dapat dilakukan dengan terapi non farmatologi yang memberikan sensasi rasa hangat, dengan cara menempel Dan farmantologi memakai obat-obatan, seperti paracetamol Dan lainnya.

Cari mendiagnosanya, dokter wajib lakukan penilaianan nyeri. Seperti untuk nyeri kronis yang stabil pemberian parasetamol tetap dapat digunakan namun dengan tambahan obat golongan opiat. Tambahan obat pereda nyeri golongan lain ini tentunya atas saran dokter. Bagi pasien yang tidak berespon dengan kombinasi ini, biasanya dokter akan meresepkan tambahan golongan antidepresan. Dan untuk nyeri yang termasuk Emergency atau darurat sebaiknya segera mendapatkan penanganan dari tenaga medis terdekat.

“Kepada petugas medis di rumah sakit, disarankan untuk melakukan pengelolaan diagnosa dengan baik, sehingga untuk pengobatan,  pasien bebas dari nyeri.  Akreditasi pun menyatakan penanganan nyeri adalah yang utama,” tandasnya. (bm2)