MEDAN (suaramahardika.co.id)- Kasus kekerasan terhadap perempuan setiap tahun terus meningkat. Hal ini bisa dilihat dari data kasus yang ditangani Himpunan Serikat Perempuan Indonesia (HAPSARI) Sumatera Utara. Tahun 2018 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak mencapai 51 kasus. Namun di tahun 2019 meningkat 47,05 persen menjadi 76 kasus.

“Sepanjang tahun 2018-2019, HAPSARI sudah menangani sebanyak 127 kasus. Selain Deliserdang 33 kasus dan Serdang Bedagai 40 kasus, sebagai wilayah fokus kerja HAPSARI, 4 kasus merupakan rujukan dari anggota Forum Pengada Layanan (FPL) di mana HAPSARI juga menjadi anggotanya dan P2TP2A yang merupakan jaringan dari HAPSARI,” papar Koordinator Program Advokasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan HAPSARI, Sri Rahayu dalam Media Briefing, Penghapusan Kekerasan Seksual, di Hotel Antares, Senin (24/2/2020).

Lebih lanjut dijelaskan Rahayu, dalam ranah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kekerasan yang paling mendominasi adalah kekerasan psikis/psikologi sebanyak 52 kasus (68 persen), kekerasan fisik 21 kasus (28 persen), penelantaran 19 kasus (25 persen), kekerasan ekonomi 11 kasus (10 persen) dan kekerasan seksual (KS) 6 kasus atau (8 persen).

“Kekerasan psikis ini seringkali dilakukan untuk merendahkan korban, baik melalui kata-kata kotor, bentakan hingga hinaan atau ancaman. Dapat juga berupa penelantaraan dalam rumah tangga, pengabaian tanggung jawab, diskriminasi, pemaksaan pernikahan, ingkar janji, perselingkuhan, poligami ilegal dan perceraian sepihak. Ini merupakan bentuk kekerasan tersembunyi yang seolah tidak terjadi, padahal kasusnya mendominasi,” terang Rahayu.

Ranah yang paling beresiko, lanjut Rahayu adalah ranah pribadi/personal. Di antaranya perkawinan atau dalam rumah tangga, berupa KDRT sebanyak 69 dari 76 kasus atau 92 persen dan dalam hubungan personal sebanyak 7 kasus atau sebesar 9 persen. “Dari ranah personal ini tidak sedikit di antaranya yang mengalami kekerasan seksual,” ujar Rahayu.

Sementara pelaku kasus-kasus kekerasan ini, lanjut Rahayu adalah orang yang cukup dikenal oleh korban seperti suami, ayah, teman, sepupu, tetangga, guru, dosen hingga mantan pacar. “Dalam kasus yang kami tangani, pelaku terbanyak adalah suami dengan jumlah 52 kasus (66,4 persen) berupa KDRT, mantan suami /pacar sebanyak 8 kasus berupa kekerasan dalam pacaran dan tetangga 8 kasus berupa pelecehan seksual,” jelasnya.

Sayangnya, kata Rahayu proses penegakan hukum dan keadilan bagi korban masih sulit dilakukan. Dari 76 kasus kekerasan yang korbannya didampingi HAPSARI, hanya 1 kasus yang selesai dengan vonis 15 tahun hukuman penjara bagi pelaku. Selebihnya 5 kasus yang sama sekali tidak memuaskan dan tidak adil bagi korban.

“Ada beberapa kendala bagi kami dalam pendampingan kasus terutama di kepolisian, ketika kita melapor kita belum memiliki perspektif tentang perempuan, sehingga pada saat diproses, korban terpaksa harus kembali melakukan BAP di lapangan. Kesulitan lainnya adalah untuk menghadirkan dua orang saksi,” terang Rahayu.

Oleh karena itulah, Rahayu berharap praktek-praktek baik berupa integrasi layanan dalam penanganan kasus kekerasan melalui Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu (SLRT) dan P2TP2A di tingkat kabupaten seperti yang telah dilakukan di Deliserdang perlu dikembangkan di wilayah lainnya.

“Dalam dua tahun belakangan ini kami sudah bersinergi dengan HAPSARI, kita saling merangkul dan sangat luar biasa karena untuk Deliserdang kita sudah membuat program SLRT dalam penanganan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ujar H. Sembiring dari Bappeda Deliserdang.
Dewan Pengurus HAPSARI, Lely Zailani mengatakan setiap tahun pihaknya membuat Catatan Akhir Tahun (Catahu) tentang Kekerasan Terhadap Perempuan.

“Advokasi ini kami lakuikan bersama dengan Forum Pengada Layanan (FPL) dan didukung program MAMPU yang merupakan kemitraan Australia-Indonesia untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Selain melakukan pendampingan dan penanganan terhadap korban, HAPSARI juga melakukan pencatatan kasus dalam sistem database yang dikelola secara online,” ujar Lely. sm-03