Oleh : Aswan Jaya

Sumatera Utara memiliki potensi alam yang begitu indah. Simbol keindahan itu adalah Danau Toba. Sudah sejak lama Danau Toba di kenal dalam dunia wisata internasional. Dan tidak pernah ada yang mempermasalahkan terkait dengan halal atau haramnya berbagai aktivitas di wilayah wisata Danau Toba.

menyadari potensi tersebut pemerintah Jokowi bersemangat membangun Danau Toba sebagai pusat wisata dunia dan didukung oleh pemerintah kabupaten diseputaran Danau Toba dengan menggelar berbagai kegiatan kebudayaan seperti yang telah dilakukan di Samosir.

Selayaknya gubenur berada diposisi terdepan untuk mensukseskan program wisata tersebut. Bukan malah mengganggunya dengan nelontarkan mewacanakan wisata halal Danau Toba. Wacana ini dapat di sebut dengan kemunduran cara berpikir seorang pejabat negara sekaligus kegamangan Pemrov Sumut dalam menata wisata di Sumatera Utara.

Sudah puluhan tahun Danau Toba dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara, beragam agama, Islam, Hindu, Budha dan Kristen berlibur di Danau Toba. Tidak pernah ada masalah terkait dengan keyakinan masing-masing agama.

Terutama wisatawan Muslim, tidak pernah kesulitan untuk menemukan tempat-tempat halal seperti makan, minum, penginapan dan sangat mudah menemukan masjid-masjid untuk ibadah shalat.

Lantas apa urgensinya wisata halal di Danau Toba ? Tidak ada urgensinya selain kegamangan seorang gubernur menatap potensi di wilayahnya sendiri.

Justru yang urgen saat ini adalah gubernur bersama kepala daerah disekitar Danau Toba menyusun jadwal berbagai acara dan kegiatan kebudayaan sebagai jadwal tahunan yang konsisten dilaksanakan.

Tujuannya adalah memberikan kepastian kepada wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk datang ke Danau Toba. Selain menikmati keindahan alam, wisatawan juga berkesempatan untuk mengenal dan menyaksikan keragaman budaya masyarakat Danau Toba.

Kepastian jadwal kebudayaan ini inheren dengan kepentingan yang lain seperti wisata kuliner, souvernir dan perhotelan.

Bagi wisatawan kepastian jadwal tahunan kebudayaan ini juga membatu mereka untuk merencakan kedatangannya ke Danau Toba.

Perlu juga diperhatikan terhadap perilaku masyarakat yang berada di Danau Toba. Bahwa wisata dan pertunjukan budaya adalah aset ekonomi mereka. Karena itu perilaku bersih, ramah dan santun serta menghargai keyakinan dan tradisi lain dari wisatawan harus dikedepankan.

Berhentilah untuk berpikir mundur dan memperdebatkan halal dan haramnya sebuah destinasi wisata. Syukurilah itu sebagai nikmat yang diberikan Allah SWT.

Perilaku menghargai dan menghormati keyakinan wisatawan dari masyarakat setempat sudah cukup memberikan dampak halal bagi wisatawan yang beragama Islam.(Penulis adalah Alumni UIN Sumut)