Oleh : Aswan Jaya

Melalui Menkopolhukam Wiranto , negara tengah menggodok aturan tentang larangan individu menyebarkan ideologi khilafah sudah tepat walau sesungguhnya terlambat.

Sebenarnya, aturan tentang hal tersebut tidak perlu menjadi perdebatan yang berpolemik. Sebab ideologi apapun yang tidak sejalan dengan ideologi negara yaitu Pancasila dan keutuhan NKRI secara otomatis terlarang untuk hidup dan berkembang di negeri ini. Termasuk ideologi khilafah yang posisinya sama terlarangnya dengan ideologi komunisme atau ideologi lain yang memiliki semangat menggantikan Pancasila sebagai ideologi negara.

Ideologi khilafah sesungguhnya tidak perlu lagi di upayakan untuk diperjuangkan di Indonesia. Karena Indonesia merupakan salah satu negara di dunia ini yang secara konsisten mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam setiap sendi kehidupan bernegara.

Sebagai contoh, pondasi dasar berislam adalah Rukun Islam. Dalam hal ini pemerintah Indonesia hadir di lima Rukun Islam tersebut. Pertama, syahadat. Setiap warga negara Indonesia yang bersyahadat negara hadir dengan mencantumkan Islam dalam golongan agama di KTP dan dokumen negara lainnya.

Kedua, Shalat. Negara hadir dalam menentukan waktu-waktu shalat fardhu. Negara juga hadir dalam menata dan membangun masjid-masjid di setiap sudut wilayah Indonesia. Bahkan beberapa di antaranya menggunakan anggaran negara.

Ketiga Puasa. Setiap tahun melalui Kementerian Agama bersama seluruh elemen umat Islam bersama-sama untuk menentukan kapan mulai Ramadhan dan kapan berakhirnya Ramadhan.

Keempat Zakat. Negara bahkan membentuk Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang berfungsi untuk mengatur volume kewajiban zakat, penerimaan dan pendistribusian zakat-zakat umat Islam.

Dan Kelima, Haji. Negara begitu sangat luar biasa mengatur, mengamankan dan milindungi umat Islam saat berhaji.

Di lima Rukun Islam ini, pemerintah Indonesia senantiasa hadir dan mengintervensi untuk menjamin umat Islam menjalankannya dengan baik dan sempurna.

Kemudian tentang Pancasila yang sering dituduhkan sebagai berhala dan toghut. Para ulama yang terlibat merumuskan dasar bangsa ini sangat memahami betul makna dan falsafah Pancasila sehingga mereka dengan ikhlas menerimanya.

Pancasila merupakan rangkuman dari seluruh isi kandungan Al-Qur’an. Sila pertama mengandung nilai tauhid sebagai ajaran pokok (aqidah) dalam Islam. Al-Qur’an banyak bicara soal tauhid ini.

Sila kedua, nilai Peradaban. Bukan kah Islam turun untuk melawan komunitas jahiliah (tidak beradab) dan membawa manusia pada fase peradaban yang mulai. Dalam Al-Qur’an juga banyak mengajarkan peradaban melalui berbagai ilmu pengetahuan dan kisah-kisah sejarah. Senantiasa Al-Qur’an mengajak kita untuk berpikir.

Sila ketiga, nilai persatuan. Dalam Islam sering juga disebut ukhuwah dan senantiasa merajut silaturrahim. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan untuk menjaga persatuan.

Sila keempat, nilai musyawarah. Al-Qur’an memerintahkan setiap persoalan dimusyawarahkan untuk diambil kebaikan demi umat manusia.

Dan sila kelima adalah nilai keadilan. Nilai ini menjadi puncak kesempurnaan dalam berislam yang sekaligus puncak dari cita-cita bernegara.

Dua hal di atas (Rukun Islam dan Pancasila) secara jelas dan terang telah mencerminkan bahwa Republik Indonesia adalah negara yang konsisten menjaga dan melaksanakan nilai-nilai Islam.

Tidak ada alasan yang mendasar bagi pengusung ideologi khilafah untuk menyatakan Indonesia adalah negara sesat dan kafir. Kecuali hanya syahwat politik untuk sebuah kekuasaan semata.

Dengan demikian, penggodokan aturan mengenai larangan individu melakukan penyebaran ideologi khilafah sudah sangat tepat dan harus secepatnya di undang-undangkan. (Penulis adalah Wakil Ketua DPD PDI- P Sumut)