img_20161014_101724
MEDAN (suaramahardika):

Rumah sakit yang memiliki alat kesehatan berteknologi canggih  dan memenuhi standar ideal masih sedikit di kota Medan. Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Sumut memperkirakan hanya ada 50℅ rumah sakit yang memiliki alat kesehatan ideal.

Ketua PERSI Sumut, Azwan Hakmi Lubis mengungkapkan alat medis yang canggih dibantu dengan tenaga ahli yang memiliki pengetahuan baik dalam menggunakan alat kesehatan menentukan kepuasan pasien atas pelayanan kesehatan di rumah sakit. Pasalnya, alat canggih, memudahkan tenaga medis untuk mendiagnosis lebih cepat dengan hasil akurat. “Namun harus kita akui rumah sakit, khususnya swasta terkendala dan dalam pengadaan alat kesehatan ini,” ujarnya dalam Kampanye Inovasi yang Peduli di Grand Antares Medan, Jumat (14/10/2016).

Dituturkan Azwan, kini Sumut memiliki lebih dari 215 rumah sakit. Dimana 36 merupakan rumah sakit pemerintah, 10 rumah sakit BUMN, 13 rumah sakit  TNI/Polri dan sisanya sekitar 160 rumah sakit swasta. “Jadi kalau dilihat dari segi jumlah, peran swasta lebih besar dibandingkan pemerintah,” jelas dia.
img_20161014_105813
Karenanya, agar rumah sakit siap melayani pasien di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), alay kesehatan yang memadai. Terutama , sakit tipe C dan tipe D. “Sehingga sebagai rumah sakit rujukan awal, tipe C dan tipe D bisa berfungsi baik. Sehingga rujukan ke rumah sakit tipe B dan A berkurang,” jelas dia.

Lantaran, sambungnya, jika diagnosa bisa ditegakkan dengan cepat. Kualitas pelayanan rumah sakit pun jadi lebih baik. Selanjutnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) melakukan maping oleh rumah sakit-rumah sakit mana yang memiliki alat kesehatan yang idela ini, sehingga sistem rujukan bisa diatur baik. “TinggL hanya perlu pengawasan dari dinas provinsi (Dinkes) Sumut, sehingga tidak ada lagi delay pelayanan kepada pasien,” jelas dia.

Country Marketing Head GE Helathcare, Marvy Lumentut mengatakan perusahaan yang dipimpinnya terus berusaha memproduksi alat kesehatan yang dapat membantu rumah sakit memberikan pelayanan lebih baik kepada pasien. “Alat kesehatan ini memenuhi tiga aspek yakni kualitas, terjangkau, mudah digunakan,” jelasnya.

Selain itu, jelasnya, membantu pemerintah untuk membina sumber daya manusia (SDM) tentang kesehatan. Dan pelatihan-pelatihan sudah dilakukan sejak tahun 2014. “Kita lihat rumah sakit tipe D dan tipe C alatnya masih banyak yang belum lengkap, terutama yang canggih, dan kita sediakan alat canggih tapi murah dan gampang dioperasikan,” terangnya.

Kepala Dinas Kesehatan Sumut, Agustama menjelaskan berdasarkan kajian pemerintah, harusnya rumah sakit tipe A hanya melayani 10℅ pasien JKN di Rumah sakit. Tapi nyatanya, hingga kini pasien yang dilayani rumah sakit A di Sumut lebih dari 15 juta pasien dalam setahun, atau lebih dari 20℅. Bahkan, hampir 8 juta per bulan dirawat di tingkat dasar di Sumut.

Terkait alat kesehatan, jelas dia, pengadaannya untuk rumah sakit pemerintah di daerah harus melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Dan dana ini, tuturnya, masih belum mencukupi untuk pembelian alat kesehatan yang harganya cukup mahal. bm-2