Kepala Sekolah SMA/SMK/SMP Yayasan Perguruan Gadjahmada Medan Drs Fo'arota Zega, MPd
Share :

Kepala Sekolah SMA/SMK/SMP Yayasan Perguruan Gadjahmada Medan Drs  Fo'arota Zega, MPd
Kepala Sekolah SMA/SMK/SMP Yayasan Perguruan Gadjahmada Medan Drs Fo’arota Zega, MPd

MEDAN (suaramahardika) : Wacana kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi terkait program Full Day School banyak menuai kontroversi. Ketidaksetujuan terkait wacana program ini tidak hanya datang dari kalangan siswa/siswi tetapi juga datang dari para orang tua murid, guru bahkan beberapa kepala sekolah.

Pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dinilai tidak cermat dan kurang mempertimbangkan dampak negative terkait wacana program Full Day School ini.

Kritikan tajam ini juga datang dari Kepala Sekolah SMA/SMK/SMP Yayasan Perguruan Gadjahmada Medan, Drs. Fo’arota Zega MPd. Ia menilai wacana kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini ibarat makan buah simalakama.

” Ini saya rasa kita ibarat makan buah simalakama. Di satu sisi kita juga berkeinginan program ini dijalankan karena memang ada juga dampak positiv nya dari program ini. Tetapi, di samping itu pemerintah kita juga harusnya mempertimbangkan segala aspeknya terutama terkait sarana dan prasarana di sekolah – sekolah di Indonesia ini. Kita ingin menuju kesana tetapi secara teknis jelas terlihat bahwa kita banyak yang belum siap. Ini yang harus dicermati pemerintah ” Ujarnya saat ditemui di ruang Kepala Sekolah Yayasan Perguruan Gadjahmada Medan, Rabu (24/8/2016).

Ia juga mengatakan seharusnya pemerintah juga melihat bahwa tidak semua sekolah di Indonesia yang jam belajarnya dilakukan di pagi hari. Ada juga beberapa sekolah yang memberlakukan jam belajar di siang hari dikarenakan sarana yang juga kurang mendukung.

” Seperti contohnya kita disini. Beberapa tingkatan atau kelas ada juga yang masuk di siang hari dikarenakan ruang kelas yang tidak mencukupi, jadi harus bergantian. Nah, kalau Full Day School ini dijalankan bagaimana nantinya yang masuk di siang hari. Mau jam berapa lagi mereka kembali ke rumah ” Kata pria yang akrab disapa Pak Zega ini.

Dirinya juga tidak menampik bahwa persoalan ekonomi dari beberapa orang tua murid juga harus menjadi perhatian pemerintah sebelum menerapkan kebijakan Full Day School ini nantinya.

” Kita kan juga tahu tidak semua orang tua murid yang ekonominya cukup baik sehingga mungkin mereka juga memerlukan bantuan dari anak – anaknya. Kita jangan hanya melihat anak – anak yang di kota besar. Mari kita lihat mereka yang di pedesaan. Beberapa anak – anak disana juga harus membantu orang tua mereka untuk bertani misalnya. Jadi pemerintah juga harus melihat terlebih dahulu perekonomian masyarakat kita baru mengambil kebijakan ” Jelasnya.

Ia pun menjelaskan bahwa seharusnya pendidikan terbaik untuk anak adalah di lingkungan sekitar masyarakat. Namun, ia menyesalkan keadaan di lingkungan masyarakat seperti sekarang ini.

” Sebenarnya salah satu pendidikan anak yang baik itu adalah di kalangan masyarakat sekitarnya. Dari situ dia bisa belajar bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Namun yang disayangkan juga seperti sekarang ini banyak di kalangan masyarakat yang sudah terkontaminasi hal – hal yang negativ, seperti contohnya Narkoba dan tindak kejahatan lainnya. Ini yang sangat disayangkan ” Tuturnya.

” Jadi, saya berkesimpulan kita sebenarnya juga ingin Full Day School ini dijalankan karena juga banyak hal positivnya, namun di samping itu yang terlihat sekarang ini jelas kita belum siap baik secara teknis maupun non teknis. Jadi, saya rasa untuk sekarang ini belum bisalah Full Day School ini kita laksanakan. Karena akan berdampak buruk juga kalau harus dipaksakan. ” Tutupnya. (cr-1)


Share :