Kohati Gelar Webinar Anti Korupsi
Share :

MEDAN (suaramahardika.co.id)- Majelis Wilayah FORHATI Sumut menggelar Seminar Anti Korupsi tingkat regional Indonesia-Malaysia, melalui webinar zoom, Minggu (21/6/2020). Webinar yang bertema “Kekuatan Perempuan/KAHMI Menanamkan Nilai-nilai Anti Korupsi” ini lebih fokus mengupas nilai anti korupsi di dalam keluarga, Ormas, Sistem Pendidikan dan Politik di Indonesia dan Malaysia.

Ketua MW KAHMI Sumut, Ir. Murlan Tamba MM yang membuka Webinar ini mengatakan kalau korupsi adalah ekstraordinary crime yang mana setiap orang bisa menjadi pelaku atau korban tanpa dia sadari. Korupsi juga terstruktur sedemikan luas, sehingga menjadi kajian mendalam bagi KAHMI secara terstruktur dan punya konsep. Membangun kesadaran masyarakat terhadap pencegahan korupsi adalah peran organisasi masyarakat.

“Oleh karena itu KAHMI Sumut menganggap apa yang dilakukan Forhati saat ini sangat stategis. Perempuan menjadi benteng utama melawan korupsi melalui keluarga dan terbangunnya gerakan anti korupsi di Indonesia,” katanya.

Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan pokja perkaderan antikorupsi FORHATI Sumut yang diinisasi oleh Peranita Sagala yang saat ini sedang menjabat sebagai Ketua Periodik FORHATI Sumut. Menurutnya FORHATI Sumut intens dalam melakukan penyuluhan anti korupsi sejak tahun 2015 setelah mengikuti TOT yang diselenggarakan SPAK dan KPK RI. Pera yang telah mengikuti sertifikasi sebagai penyuluh yang berkompeten dari LSP KPK RI ini mengerahkan perkaderan anti korupsi sebagai fokus kegiatan dalam rangka memperkuat dan memperluas gerakan anti korupsi di organisasi dan komunitas FORHATI.

Adapun narasumber utama dalam Webinar ini adalah mantan penasehan KPK RI tahun 2005-2014, Abdullah Hehamahua, SH, MM. Selain itu terdapat juga narasumber lainnya yakni Rahmadani Hidayatin Sukatendel S.Psi, M.Kes., Psikolog, DR. Mahmud Mulyadi, yang merupakan pakar hukum pidana, Syafrida Rasahan, SH, Ketua Bawaslu Sumut dan KAHMI Malaysia, Darma Bakti Kalbar.

Abdullah Hehamahua dalam Webinar tersebut memperkirakan pada tahun 2050 Indonesia akan hilang dari muka bumi, menjadi beberapa negara baru ataupun jadi jajahan oleh negara lain. Begitulah tingkat kerusakan yang diakibatkan Korupsi di Indonesia. Korupsi adalah kejahatan luar biasa karena dampaknya luar biasa, bersifat trans nasional, pembuktian yang sukar, dan dijadikan bisnis yang menjanjikan.

Penasehat KPK ini mendesak masyarakat agar memberikan sanksi sosial yang tegas kepada koruptor, seperti menolak memiliki relasi dengan keluarga koruptor, tidak menghadiri undangan perhelatan para koruptor bahkan masyarakat tidak usah melayat koruptor yang meninggal. Beliau juga menyatakan bahwa keluarga sangat penting untuk melakukan penyelamatan negara dari kehancuran akibat korupsi. Korupsi harus dicegah dan diberantas dengan cara-cara luar biasa.

Sementara, narasumber dari KAHMI Malaysia, Darma Bakti Kalbar membandingkan keseharian pola hidup Indonesia dan Malaysia dalam menanamkan nilai-nilai Anti Korupsi. Dimulai dari membandingkan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang terpaut cukup jauh. Hal ini terwujud dalam aktifitas masyarakatnya. Perbedaan yang paling menonjol adalah di budaya antre dan mental pengemis.

Webinar ini diikuti sebanyak 231 peserta dengan antusias melalui platform Zoom dan YouTube yang berlangsung dari pukul 14.00-17.00 WIB. Peserta berasal dari dari masyarakat umum seperti Aparat Sipil Negara (ASN), Organisasi Masyarakat, Perguruan tinggi, aktifis anti korupsi di seluruh Indonesia dan Malaysia. Selebihnya adalah anggota KAHMI dan HMI.rel/sm-03


Share :